Minggu, 31 Januari 2021

Refleksi bulan Januari 2021

        
        Membuka tahun 2021 tepatnya tanggal 7 Januari saya mendapat kabar jika buku saya yang berjudul "Berbagi Motivasi dalam Literasi" disetujui penerbit Edwrite untuk diterbitkan. Kabar berikutnya saya terima tanggal 19 Januari dari penerbit Andi Yogyakarta. Buku kolaborasi saya dengan Prof. Ekoji yang berjudul Netiquette dalam proses penerbitan. Alhamdulillah... kabar tersebut menjadi mood buster bagi saya untuk bisa berkarya lagi setelah menulis buku perdana yang berjudul "Stop Child Abuse! Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan pada Anak di Sekolah" diterbitkan PT Grha Cipta Media tahun 2018.

          Awalnya tidak mudah bagi saya untuk menulis. Saya merasa kesulitan menemukan ide apalagi mengembangkannya. Namun saya terus mencoba sebab ingin membuktikan keajaiban apa yang akan saya peroleh dengan menulis. Ternyata luar biasa dampaknya. Dengan menulis dan masuk berbagai komunitas menulis seperti : PGRI, Edwrite, KPPJB, Gulisiana, dan lain-lain yang saya ikuti memberikan banyak pencerahan. Ketika motivasi untuk menulis saya menurun maka dengan membaca tulisan rekan-rekan yang selalu semangat untuk berkarya membuat mood menulis saya kembali naik. Maka saya sangat menyarankan bagi penulis pemula agar masuk berbagai komunitas menulis ini. 
       Berkat jejaring pertemanan dalam dunia menulis pula membuka jalan bagi saya untuk bisa berkolaborasi dengan para penulis hebat melalui tiga buah buku antologi yaitu Semangat Menulis Bersama Bu Kanjeng, Pelangi di Tengah Pandemi dan Mendidik dengan Hati. Kesempatan emas juga saya peroleh dengan berkolaborasi bersama Prof. Richardus Eko Indrajit yang biasa disingkat Prof. Ekoji. Waaah... saya gak pernah bermimpi bisa menulis bareng beliau apalagi difasilitasi penerbit Andi sebagai penerbit mayor. Sungguh karunia yang luar biasa. 
            Dengan mengikuti berbagai kegiatan yang diselenggarakan PGRI dan Ekoji Channel membuka kesempatan saya juga untuk mengikuti gurulympic ajang perlombaan yang pertama kali diselenggarakan PGRI di tahun 2020. Alhamdulillah saya memperoleh 2 medali emas, 1 medali perak, dan 1 medali perunggu. 
            Di bulan Januari ini saya juga mendapatkan kesempatan mengikuti seleksi guru penggerak untuk pengajar praktik. Pada tanggal 12 Januari saya mengikuti seleksi simulasi mengajar. Alhamdulillah lulus yang dilanjutkan seleksi wawancara pada tanggal 26 Januari. Saat tulisan ini dibuat kegiatan wawancara masih berlangsung sampai tanggal 4 Februari. Saya berharap bisa ikut memberikan kontribusi bagi suksesnya program guru penggerak ini. Aamiin...
            
            

Kamis, 20 Agustus 2020

Noralia Purwa Yunita : Penulis Muda Bertabur Karya



Perubahan paling penting adalah Digital Mindset
-  Hery Rosadi Harman  -


Digital mindset atau pola pikir digital menjadi bahasan menarik malam ini. Seorang guru muda yang cantik dan cerdas bernama Noralia Purwa Yunita, M.Pd yang biasa dipanggil Bu Nora berhasil menaklukan tantangan Prof. Richardus Eko Indrajit untuk menulis sebuah buku dalam waktu seminggu. Ini adalah buku pertamanya hasil kolaborasi dengan prof. Eko yang berhasil diterbitkan oleh penerbit Andi sebagai penerbit mayor.




Bu Guru mata pelajaran IPA dan Prakarya di SMPN 8 Semarang ini  termasuk beruntung. Keberuntungan yang pertama dapat berkolaborasi dengan prof. Eko yang sudah terkenal namanya dan banyak karyanya serta keberuntungan yang kedua tema yang diambil sesuai trend sekarang. Keberuntungan lainnya tentu saja sebagai  penulis pemula memiliki kesempatan karyanya  langsung diterbitkan oleh penerbit mayor. Berikut kita intip daftar isi buku digital midset sebagai berikut :

Buku ini berisi tentang pola pikir digital dan penerapan digital mindset di berbagai bidang kehidupan, pembelajaran digital, aplikasi yang mendukung untuk pembelajaran digital, apa saja yang harus disiapkan untuk melakukan pembelajaran digital, serta dilengkapi pula contoh RPP untuk pembelajaran digital. Sangat cocok sebagai bahan bacaan bapak ibu guru di situasi PJJ seperti sekarang.

Masa pandemi corona yang sudah berlangsung selama 6 bulan ini rupanya membawa berkah bagi Bu Nora. Semangat menulis yang pernah ditekuni semasa kuliah luntur setelah bekerja dan berkeluarga. Mungkin karena susah mengatur waktu, jadi tidak menyempatkan diri untuk kembali berkarya. Namun, ketika Bu Nora pindah unit kerja, ada satu teman kerja yang memantik semangat untuk berkarya lagi. Puncaknya saat pandemi datang. Karena pandemi Bu Nora kenal dengan grup belajar menulis om Jay dkk. Berawal dari sinilah Bu Nora dapat berkarya lagi. Berikut karya Bu Nora yang dihasilkan selama masa pandemi selain buku Digital Mindset yang fenomenal itu. Sebuah karya opini yang dipublikasikan di Suara Media Guru dapat dilihat di : http://suaraguruonline.com/pembelajaran-daring-sebagai-solusi/. Kemudian karya kedua berhasil terbit di majalah Geliat Gemilang Bandung yang berjudul “Aplikasi Baru untuk Mengajar Online”

Selain buku Digital Mindset masih ada satu buku lagi yang sekarang sedang dalam tahap proses terbit yang merupakan hasil resume ketika Bu Nora mengikuti kelas menulis Om Jay gelombang 8. Buku ini berisi hasil resume pelatihan menulis dari pertemuan pertama hingga terakhir.  Untuk isinya, ada beberapa yang ditambah dengan referensi lain di luar materi dari narasumber dan ada pula materi yang tidak dimasukkan kedalam  bukunya karena tidak sesuai dengan  outline resume yang telah disusun sebelumnya yang berpatokan  2W+1H yaitu what, why dan how.
Dari grup menulis ini Bu Nora  juga mendapat apresiasi dari penerbit Andi sebagai tulisan yang menginspirasi dan mendapat hadiah juga. Kita dapat membaca tulisannya tersebut di yaitu : https://noraliapurwa.blogspot.com/search?q=jurus+4+R+mencatatkan+sejarah

Sebagai penulis pemula Bu Nora sangat produktif. Rupanya keterampilan menulis bukan hal yang asing baginya sebab Bu Nora mulai kenal dunia menulis semenjak kuliah S1. Waktu itu diajak untuk ikut serta lomba karya tulis ilmiah tingkat provinsi oleh kakak kelasnya. Awalnya ragu, tapi penasaran juga. Akhirnya ikut lomba juga. Waktu itu belum ada pengalaman sama sekali tentang menulis. Hanya modal nekat dan otodidak.tapi Alhamdulillah, membuahkan prestasi mendapatkan juara 3 tingkat provinsi lewat karyanya yaitu Biskuit Pena "Petai Cina"untuk Meningkatkan Gizi Anak Penderita Cacingan (https://noraliapurwa.blogspot.com/2020/04/biskuit-pena-petai-cina-untuk.html?m=1). Karya kedua mendulang berkah dari sampah  dapat dilihat di https://noraliapurwa.blogspot.com/2020/04/mendulang-berkah-dari-sampah.html?m=1. Sedangkan karya ketiga Bisnis “Brownies Binang” sebagai upaya diversifikasi pangan dapat dilihat di https://noraliapurwa.blogspot.com/search?q=Brownies+binang&m=1.

Setelah mendapat juara itu, akhirnya ketagihan menulis dan ikut lomba. Belajar hanya dengan kakak kelas dan dosen pembimbing. Beberapa kali ikut lomba, beberapa kali juga juara. Dari hadiah juara itu, Bu Nora dapat menyelesaikan kuliah S1 dan S2 secara gratis, alias tanpa biaya karena biaya sudah tercover dengan uang hadiah juara. 

Luar biasa prestasi yang sudah ditorehkan oleh Bu Nora. Masih muda namun sarat dengan prestasi. Bu Nora juga tidak pelit untuk membagikan tips kesuksesannya yang membawa berkah baginya. Saya singkat tipsnya untuk memudahkan mengingat dengan jurus KaTaCaDiTu sebagai berikut :

1. Ambil kesempatan yang ada ( Jurus Ka)
Ketika Bu Nora melihat ada kesempatan dan  juga mempunyai tulisan dengan tema yang dimaksud, langsung saja mengirimkan tulisan tersebut. Buku pertama berjudul digital mindset juga sama,ketika itu prof Eko yang menjadi narasumber di gelombang 8 memberikan tantangan kepada peserta untuk berkolaborasi dengan beliau untuk menulis buku dalam seminggu. Tema sudah ditentukan beliau yaitu mengambil sebuah judul dari kanal YouTube beliau
Dengan modal nekat dan penasaran, setelah kulwap selesai, Bu Nora japri beliau dengan menyatakan bersedia untuk dapat menulis buku dalam waktu seminggu. Waktu itu Bu Nora memilih judul Digital Mindset karena sesuai dengan kondisi kita sekarang yang harus mengurangi bersentuhan dan kerumunan

2. Beri target ( Jurus Ta )
Untuk target ini kita sesuaikan dengan outline yang telah kita buat. Tentunya outline harus selaras dengan tema yang diambil. Misal di outline kita ada 5 bab, kita buat target kapan 5 bab itu harus selesai. Misalkan 5 bulan selesai 5 bab, berarti wajib 1 bulan selesai 1 bab

3. Catat referensi ( Jurus Ca )
Setelah kita memiliki outline dan target, selanjutnya mencari referensi sesuai dengan outline yang ada
Referensi yang saya gunakan untuk buku digital mindset adalah jurnal ilmiah baik itu nasional dan internasional, buku, dan beberapa modul dari Kemdikbud. Jadi referensi boleh secara online maupun offline. Usahakan referensi terkini dan teraktual

4. Disiplin waktu ( Jurus Di )
Nah ini yang biasanya sangat susah dilakukan. Terkadang outline sudah bagus, target sudah ada, referensi sudah lengkap, tapi dalam perjalanan, kadang rasa jenuh dan malas itu datang. Akhirnya berhenti menulis. Ini adalah penyakit Bu Nora sendiri yang sering mengalaminya. Untuk solusinya, kita dapat menentukan waktu tersendiri untuk menulis. Waktu tersebut bebas yang penting waktu ternyaman untuk.kita berkarya. Biasanya Bu Nora menulis diatas jam 9 setelah anak2 tidur. Jadi tidak mengambil waktu dengan keluarga. Karena prinsipnya menulis itu hobi. Hobi harus dilakukan dengan senang. Saya senang, keluarga juga senang. Bu Nora biasanya meliburkan diri menulis 2 hari, yaitu Minggu malam dan Rabu malam. Kenapa? Karena di kedua waktu itu Bu Nora fokuskan untuk membuat konten channel YouTube.  Ada  skala prioritas dalam pembagian waktu. Pembagian waktu ini perlu dilakukan sebab Bu Nora tipikal orang yang tidak suka melakukan hal yang sama berulang-ulang sehingga jika terus menjadwalkan untuk menulis khawatirnya bosan. Jadi Bu Nora selingi dengan membuat media pembelajaran untuk channel YouTubenya. Biasanya ketika membuat media itu sambil melihat-lihat tayangan YouTube lainnya seperti drama Korea kesukaan ibunya sampai rasa jenuh yang dirasakannya hilang.

5. Yaitu tulis ( Jurus Tu )
Setelah semuanya, proses terakhir yaitu menuliskan isi buku kita sesuai outline yang ada. Pada saat menulis buku ini, jangan terlalu terpaku buku kita harus terbit di penerbit mayor. Jika seperti itu, takutnya nanti kita kecewa jika hasil tidak sesuai harapan. Nikmati saja alurnya, masalah penerbitan akan mengikuti. Bu Nora membagikan juga tips membukukan hasil resume pelatihan menulisnya. (https://noraliapurwa.blogspot.com/search?q=tips+membukukan+hasil+resume)

Bagi Bu Nora menulis adalah cara untuk bisa hidup lebih lama sebab ada ungkapan yang sangat disukainya yaitu menulislah karena dengan menulis dan berkarya adalah caramu untuk hidup 1000 tahun bahkan beribu-ribu tahun lagi. Tunggu apa lagi? Mari kita menulis dan menghasilkan karya yang akan dikenang abadi selama-lamanya. 




Jejak Literasi Digital Nusantara

Menulislah, karena tanpa menulis engkau akan hilang dari pusaran sejarah
-Pramoedya Ananta Toer-

Sejarah mencatat bahwasanya peradaban bangsa yang besar dan maju ditandai dengan masyarakatnya yang mampu mengembangkan budaya literasi yang tinggi yaitu mencakup literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, serta literasi budaya dan kewargaan. Penguasaan enam literasi dasar tersebut menjadi modal dasar untuk menguasai kecakapan abad 21 yaitu kemampuan berkolaborasi, berpikir kritis, kreatif, berdaya saing tinggi dan komunikatif untuk memenangkan persaingan global.

Salah satu literasi yang sangat penting dikuasai oleh kita adalah literasi digital. Apa itu literasi digital? Untuk lebih mengetahui tentang literasi digital, kita dapat membaca buku fenomenal yang berjudul “Literasi Digital Nusantara”. Kenapa saya menyebut karya buku ini fenomenal? Tentu karena proses pembuatannya yang tergolong cepat dengan target satu minggu selesai. Walaupun pada kenyataannya ada tambahan waktu dari penerbit. Namun menurut saya itu suatu prestasi tersendiri sebab tidak semua orang mampu untuk bisa menulis secara cepat. Karya fenomenal tersebut hasil kolaborasi 2 penulis yaitu Bu Musiin, S.Pd, M.Pd dan Prof. Richardus Eko Indrajit.

Sebelum lanjut membahas tentang buku fenomenal mereka, saya akan mengajak pembaca untuk mengenal lebih dekat kedua sosok tokoh inspiratif tersebut. Bu Musiin yang lebih dikenal dengan panggilan Bu Iin lahir di Kediri tanggal 6 Juli 1970. Beliau guru bahasa Inggris di SMPN 1 Tarokan Kediri sejak tahun 1998. Sebelum jadi guru Bu Iin sudah menjadi dosen di STKIP PGRI Jombang, STIE Dewantara Jombang dan tutor bagi pekerja asing di PT Chiel Jedang Jombang. Di lingkungan pendidikan, beliau aktif menjadi tim pengembang mata pelajaran Bahasa Inggris dan Tim Penilai Angka Kredit Guru tingkat kabupaten Kediri. Lulusan S-1 Bahasa Inggris IKIP Negeri Malang dan S-2 Pendidikan  Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Surabaya ini pernah mengikuti short course di SEAMEO RELC Singapura tahun 2015.

Selain berkecimpung di dunia pendidikan, Bu Iin yang memiliki hobi membaca buku, menulis, travelling dan memasak ini juga seorang entrepreneur dengan mendirikan PT In Jaya yang bergerak di bidang ekspedisi untuk pendistribusian produksi Indomarco dan Indolakto Pasuruan. Selain itu PT In Jaya merupakan pemasok bahan baku tebu bagi pabrik gula di wilayah Madiun, Malang dan Kediri.

Bukan cuma dunia pendidikan dan bisnis saja yang digelutinya, namun bu guru tangguh ini juga memiliki jiwa sosial yang tinggi. Sisi kemanusiaan mendorongnya untuk mendirikan organisasi swadaya masyarakat YAPSI yang berdiri sejak tahun 1991. Organisasi ini bergerak dalam bidang : pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya UMKM bekerja sama dengan Bank Indonesia Surabaya, pemberian bantuan pangan bagi masyarakat miskin, posyandu, anak sekolah bekerja sama dengan World Food Program (UN-WFP) di wilayah Surabaya, Gresik dan Sidoarjo, pemberian bantuan susu bagi anak-anak SD bekerja sama dengan Susu Ultra dam Departemen  Pertanian Amerika Serikat, pelatihan Sekolah Ramah Anak  bagi guru-guru SD di Kabupaten Sampang bekerja sama dengan UNICEF, pendidikan lingkungan dan daur ulang sampah bekerja sama dengan Tetra Pak Indonesia dan TP UKS Propinsi Jawa Timur serta pengadaaan perpustakaan kampung, dan toilet di kampung-kampung Surabaya donasi dari UN WFP. Sungguh luar biasa kiprah bu Iin walaupun sosoknya perempuan yang identik dengan lemah lembut namun ternyata beliau seorang sosok yang tangguh dan berani bersaing keluar dari zona nyamannya sebagai seorang guru.

Prof. Richardus Eko Indrajit yang lahir di Jakarta, 24 Januari 1969 adalah seorang pakar teknologi informasi lulusan Universitas Harvard. Tak hanya sebagai pakar teknologi dan narasumber berbagai seminar, beliau juga seorang akademisi sekaligus penulis puluhan judul buku dan ratusan jurnal ilmiah yang telah dipublikasikan baik di tingkat nasional maupun internasional. Salah satu buku yang berasal dari materi yang disampaikan Prof Eko di  Ekoji Channel  (https://www.youtube.com/watch?v=8oMCQspJOII) berjudul Digital Mindset. Materi ini kemudian oleh Bu Iin dikembangkan di rumah berdasarkan referensi baik itu surat kabar, buku dan informasi yang ada di internet. Untuk mendapatkan referensi yang akurat, Bu Iin banyak membaca buku dan memvalidasi data dengan sumber yang lain. Jadi tidak hanya percaya dari satu sumber saja.  Selain itu juga dilakukan pengamatan dalam kehidupan sehari-hari sebagai salah satu sumber inspirasinya.

Bu Iin tertarik menulis buku tentang literasi digital sebab berdasarkan data yang dirilis Data Statista menunjukkan bahwa Indonesia masuk peringkat kelima pengguna internet terbesar di dunia. Tercatat pengguna internet di Indonesia sebanyak 143,26 juta per Maret 2019. Dalam memaparkan data-data tentang pengguna internet Bu Iin menggunakan data hasil survey APJII. APJII adalah Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia. Hasil survei tersebut digunakan Bu Iin sebagai data penulisan dan dipaparkan berdasarkan pengamatan dan referensi yang lain juga.

Awal pembuatan buku ketika Prof. Eko yang menjadi narasumber kelas menulis gelombang 8 memberi tantangan untuk menulis buku selama satu minggu. Kemudian tantangan tersebut diterima oleh Bu Iin, cikgu Tere, Pak Roma, dan teman-teman lainnya yang akhirnya berkolaborasi dengan Prof. Ekoji. Malam itu Bu Iin membuat outline bukunya sebagai berikut :
1. Pengguna Internet di Indonesia
     1.1. Pembagian Generasi Pengguna Internet
     1.2. Karakteristik Generasi dalam Berinternet
2.  Media Sosial
     2.1. Media Sosial
            2.1.1. Pengertian
            2.1.2. Jenis-jenis Media Sosial
            2.1.3. Kelebihan dan kekurangan media sosial
     2.2. Undang-undang Informasi dan Transaksi
     2.3. Kejahatan di Media Sosial
3.  Literasi Digital
4.  Ekosistem Literasi Digital Di Nusantara
5.  Literasi Digital untuk Membangun Digital Mindset Warga +62

Keesokan harinya Prof Eko memberi Bu Iin cover buku yang akan ditulis. Semangat Bu Iin langsung berkobar untuk segera menyelesaikan buku tersebut. Berbekal surat kabar, buku-buku dan penelusuran referensi di Internet Bu Iin berusaha menyelesaikan karyanya. Beliau sisihkan 10% dari TPP untuk berlangganan surat kabar, Wifi dan membeli buku-buku yang menambah wawasan pengetahuannya. Semua buku dari berbagai bidang ilmu yang menarik untuk dibaca dibelinya.
Berikut gambaran buku Bab 1 dan Bab 2 Buku Digital Literasi Nusantara secara sepintas.

1. Pengguna Internet di Indonesia
     1.1. Pembagian Generasi Pengguna Internet

Berdasarkana data diatas nampak pengguna terbesar adalah generasi Z (data tahun 2018). Kemungkinan besar karena PJJ di era pandemi Covid-19, generasi Apha juga mulai menjadi pengguna dalam prosentase yang besar.

     1.2. Karakteristik Generasi dalam Berinternet
Pembahasan tentang jumlah dan karakteristik masing-masing generasi ini sangat menarik karena berdasarkan tahun kelahiran dan kondisi tumbuh kembang mereka sangat mempengaruhi perilaku dalam berinternet.

Generasi yang lahir antara tahun 1995-2010 adalah Generasi Z atau dikenal dengan iGeneration atau Generasi Net.Mayoritas anggota generasi ini masih di bangku sekolah dan kuliah, hanya sebagian kecil saja yang masuk ke dunia kerja. Gadget dan internet telah menjadi bagian dari kehidupan mereka sejak kecil. Implikasinya mereka menyukai hal yang instan, kenyamanan dan multi tasking. Popularitas diperoleh di berbagai media sosial melalui unggahan-unggahan yang menunjukkan style mereka. Hedonisme sudah menjadi urat nadi yang tidak bisa terlepas dari kehidupan sehari-hari. Mereka menyukai berbelanja secara online sekaligus pelaku industri ekonomi kreatif di dunia maya. Uang tidak lagi untuk investasi seperti yang dilakukan generasi sebelumnya, namun untuk keperluan fashion, travelling dan kulier.

Berdasarkan hasil survei APJII tahun 2018, alasan warganet +62 menggunakan internet adalah berkomunikasi, bermedia sosial dan mencari informasi tentang pekerjaan. Murid-muridnya  jika diajak menggunakan platform Google Classroom dalam pembelajaran selalu mengatakan bahwa paketan yang dibeli adalah paketan media sosial.

2.  Media Sosial
     2.1. Media Sosial
            2.1.1. Pengertian
            2.1.2. Jenis-jenis Media Sosial
            2.1.3. Kelebihan dan kekurangan media sosial
Dalam pembahasan mengenai media sosial berdasarkan data yang dirilis We Are Social, Hootsuite, 2020 beberapa media sosial yang sering dipakai adalah sebagai berikut :

     2.2. Undang-undang Informasi dan Transaksi
Penggunaan internet yang tidak dimbangi dengan kecerdasan digital akan mengakibatkan pengguna internet menjadi korban kejahatan digital atau bahkan menjadi pelaku kejahatan digital. Di Indonesia UU yang mengatur tentang Informasi Elektronik dan Transaksi Elektronik disebut dengan UU ITE.
UU ITE Pasal 27 adalah pasal pasal yang sering dilanggar oleh warganet, Isi dari UU ITE pasal 27 adaah:

     2.3. Kejahatan di Media Sosial
     Di bagian akhir Bab 2 dipaparkan tentang jenis-jenis kejahatan siber yang mayoritas sasaran empuknya adalah anak-anak usia 15-19 tahun. Anak-anak yang tergolong sangat rawan terkena kejahatan. Apalagi banyak anak anak di usia dini saat ini sudah memiliki hp tanpa kontrol orang tua. Mirisnya ada juga yang digunakan untuk membuat video mesum. Berikut daftar kejahatan di dunia maya :

   Demikian gambaran sepintas buku tentang Literasi Digital Nusantara. Buku ini menurut saya sangat bagus dibaca oleh guru, orang tua, maupun pengamat pendidikan atau siapa pun yang peduli terhadap pendidikan. Untuk menambah kepenasaranan publik terhadap isi bukunya Bu Iin tidak menjelaskan Bab 3,4, dan 5 dan mempersilakan kami untuk membeli bukunya tersebut. 

Terbitnya buku Literasi Digital Nusantara merupakan suatu keajaiban yang dirasakan Bu Iin setelah mengikuti kelas menulis Om Jay. Beliau tidak menyangka buku yang ditulisnya akan diterbitkan oleh penerbit Andi yang merupakan penerbit mayor. Beliau jadi teringat buku yang berjudul “The Secret (Law of Attraction)” karya Rhonda Byrne. Buku ini bercerita tentang rahasia kekuatan pikiran atau gaya tarik menarik di alam semesta. Pikiran Bu Iin di awal tahun adalah menulis buku kemudian atas kehendak Allah Bu Iin dituntun mengikuti kelas menulis dan berhasil menulis buku di penerbit mayor. Baru buku Literasi Digital Nusantara inilah yang diterbitkan oleh penerbit mayor. Sebelumnya buku-buku pelajaran namun lewat penerbit indie.

Tantangan dan rintangan dihadapi juga oleh Bu Iin terutama berkaitan dengan waktu dan tuntutan harus menghasilkan karya terbaik. Proses penulisan buku yang sangat singkat,  walaupun sangat berat namun Bu Iin mengambil hikmahnya. Menurutnya, cara Prof Eko memberi waktu yang singkat adalah sangat tepat, supaya kita menulis dan terus menulis memenuhi deadline. Seandainya kita diberi waktu longgar, mungkin buku ini  belum selesai.

Namun sebagai manusia biasa Bu Iin merasakan juga kejenuhan apalagi buku yang ditulisnya diluar bidang keilmuannya. Untuk mengatasi kejenuhan biasanya beliau menyalurkan hobinya memasak. Pengalamannya bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat mengajarkan Bu Iin tentang berbagai hal karena harus belajar dari nol dan bekerja keras. Berkat kegigihan, keuletan dan kesabarannya akhirnya buku Literasi Digital Nusantara dapat diselesaikan sesuai target.

Melalui buku Literasi Digital Nusantara Bu Iin menyampaikan pesan kepada pembaca agar mempergunakan internet secara bijak dan ambil manfaatnya untuk kepentingan orang banyak. Sebagai salah satu pengguna internet terbesar di dunia, tentu yang dibutuhkan adalah pendidikan untuk berinternet secara sehat dan bijak. Di dalam bukunya, Bu Iin juga menulis tentang manfaat yang diperoleh dengan membangun digital mindset.

Bu Iin memberikan motivasi pada kami bahwa TIDAK ADA KATA TERLAMBAT untuk memulai sesuatu yang baik. Kita semua pasti bisa menghasilkan karya yang yang akan dikenang anak cucu dan generasi mendatang. Ide menulis bisa dari mana saja, dari lingkungan keluarga, tempat kerja dan masyarakat. Selalu semangat dan yakin bahwa ada karya yang bisa dihasilkan dari tangan kita.

Jejak karya  Bu Iin sebagai seorang guru, tutor, dosen, penulis, aktivis dan  entrepeneur yang telah mengasilkan buku Literasi Digital Nusantara serta sederet prestasi lainnya yang luar biasa rupanya terinspirasi oleh Syaikh Hasyim Asy’ari yang mengungkapkan bahwa tatkala waktuku habis tanpa karya dan pengetahuan, lantas apa makna umurku ini? Sebuah pertanyaan mendalam yang membawa kita pada makna tujuan hidup kita. Jangan sampai kita menjadi orang yang merugi karena menyia-nyiakan waktu. Selagi masih diberikan kesempatan untuk hidup maka berkaryalah dan carilah ilmu sebanyak-banyaknya. Karya yang kita tuliskan tidak akan hilang dari pusaran sejarah sebagaimana yang disampaikan Pramoedya Ananta Toer. Menulislah dan terus menulis sampai kita tidak mampu menggerakkan tangan kita lagi untuk menulis. Walaupun raga kita sudah tiada namun hasil karya kita akan dikenang sepanjang masa.


Bu Betti Guru Entrepreneur



Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain
(HR. Ahmad, At-Thabrani, ad-Daruqutni)

Setiap manusia memiliki hak asasi yang sama dalam mengakses pendidikan. Namun sayangnya sampai saat ini masih saja terjadi kasus diskriminasi. Diskriminasi bisa menyangkut kemampuan seperti kondisi fisik, kemampuan akademik, maupun keadaan ekonomi. Salah seorang yang pernah mengalami diskriminasi yang menyangkut keadaan ekonomi adalah Dra.Betti Risnalenni, MM. pendiri KB/TK/SD Insan Kamil Bekasi. Bu Betti pernah merasakan pengalaman kurang menyenangkan. Beliau pernah mendaftarkan anaknya di sekolah mahal namun tidak diterima karena latar belakang pekerjaannya dianggap tidak akan mampu menyekolahkan anaknya disana. Gara-gara itulah bu Betti bertekad untuk membangun sekolah dengan fasilitas yang bagus dengan biaya terjangkau yang bisa dimasuki siapa saja. Bagi yang kaya bayar normal namun yang kurang mampu bayar semampunya dan bagi yang yatim gratis. Suatu tekad yang sangat mulia dalam rangka pemerataan akses pendidikan yang sangat bermanfaat bagi masyarakat.

Jiwa entrepreuneur bu Betti sudah ada sejak kecil dan makin terasah dengan kemampuan marketing dalam menjajakan dagangan orang tuanya. Kemampuan entrepreuneurnya makin meningkat setelah pada tahun 1996 menjadi pengelola kursus aritmetika sampai berkembang memiliki 24 pusat kursus di Bekasi. Saat itu Bu Betti dengan pusat kursusnya sering mengadakan lomba aritmetika. Beliau aktif bekerja sama dengan Metropolitan Mall sebagai tempat mengadakan lomba. Bentuk kerjasama yang saling menguntungkan.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Bu Betti yang ingin membangun sekolah namun belum terwujud karena kendala biaya bertemu dengan salah satu pengelola pusat kursus aritmetika yang berniat ingin mendirikan sekolah TK. Kemudian Bu Betti mengontrak sebuah rumah yang dijadikan sekolah TK. Bu Betti membuat buku materinya juga. Program unggulannya tentu saja aritmetika dan hapalan surat pendek. Awalnya untuk membantu operasional sekolah Bu Betti menjual buku di pusat-pusat kursus. Baru pada tahun 2009 sekolah mendapat bantuan BOS

Pengalaman mengelola sekolah Kelompok Belajar, TK dan SD Insan Kamil menjadi best practice yang mengantarkan Bu Betti menjadi kepala sekolah berprestasi di kota Bekasi. Salah satu aspek penilaian yang memiliki nilai tinggi adalah buku. Saat itu Bu Betti sudah menulis 30 buku aritmetika. Prestasi yang dicapai Bu Betti juga diikuti dengan prestasi siswanya diantaranya juara olimpiade matematika se-Jawa Barat, Duta Baca Jabar, Juara Karate Nasional. Prestasi yang luar biasa.

Faktor keberhasilan Bu Betti dalam hidupnya tidak lepas dari doa yang selalu dipanjatkan. Jika sulit untuk mendapatkan sesuatu berarti itu sinyal dari Allah yang tidak ridho dengan itu. Apapun yang terjadi dalam hidupnya Bu Betti selalu menikmati apa yg dilakukannya. Selain berdoa, kita harus berani mencoba dan pantang menyerah. Gunakan peluang setiap ada kesempatan karena kesempatan belum tentu terulang kembali. Lakukanlah sesuatu karena kalau kita melakukan sesuatu yang baik maka Allah juga akan menolong kita. Saat ini Bu Betti sudah pensiun mengelola sekolah Insan Kamil dan sedang mencoba hal baru yaitu kuliner. Beliau sering ikut pelatihan yang berkaitan dengan kuliner. Sekarang selain punya sertifikat pendidik juga telah memiliki sertifikat sertifikasi wirausaha.

Kisah hidup Bu Betti sangat menarik dan inspiratif. Bagaimana Bu Betti bertransformasi dari seorang edupreuneur menjadi seorang entrepreuneur di bidang kuliner. Prinsipnya selagi masih bisa berkarya dan berkiprah maka lakukanlah. Kalau itu memang  bagus, hati kecil kita tak mungkin mengingkarinya. Lakukanlah apa yang bisa kita lakukan. Yang penting kegiatan itu positif dan tidak merugikan orang lain. Maka jadilah sebaik-baik manusia yang bermanfaat bagi orang lain.







CLBK, Yes!!!




Jika kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka MENULISLAH
sehingga hidup ini lebih mulia untuk sesama
- Al Ghazali -

Kunci untuk menjadi seorang penulis  dalam menghasilkan karya tulisan yang luar biasa adalah dengan menulis, menulis dan terus menulis. Bagi penulis pemula tentu awalnya tidak mudah dan mengalami banyak hambatan. Begitu pula yang pernah dirasakan narasumber kelas menulis malam ini yang bernama Yulius Roma Patandean, S.Pd. Beliau seorang guru berprestasi yang mengajar bahasa Inggris di SMAN 5 Tana Toraja. Ketika mulai menulis beliau merasakan kebingungan apa yang mau ditulis. Walaupun sebenarnya banyak ide di sekitar namun ketika mulai menulis beliau justru susah untuk melakukannya. Seolah-olah ide yang sudah tersusun rapi di pikirannya hilang semua ketika mulai mengetik.

Namun pak Roma demikian nama panggilannya selalu berupaya agar bisa mengatasi semua hambatan tersebut. Beliau memiliki moto CLBK. Bukan Cinta Lama Bersemi Kembali tetapi COBA, LAKUKAN, BUDAYAKAN dan KONSISTEN.
COBA
Tak ada satu pun usaha yang berhasil jika tidak mencobanya lebih dahulu. Dalam menulis pun demikian, memulainya kadang susah terutama dalam membangun ide lalu mencurahkannya kalimat demi kalimat. Namun harus terus dicoba berulang-ulang. Hal ini akan melatih kita memproduksi untaian kata-kata yang menghasilkan kalimat bermakna.
LAKUKAN
Ketika kita sudah mencoba, telah menemukan rasa dan keunikan tulisan kita, maka harus terus dilakukan agar ide kita tidak mengendap seiring berlalunya waktu. Jika ada kendala, dan kita berhenti menulis saat itu, maka saat itu juga semangat menulis kita berhenti. Jadi kita harus paksa diri kita untuk menulis hingga kini. Menulis apa saja, intinya harus ada sesuatu yang tersimpan di draft tulisan blog kita atau tersimpan di laptop.
BUDAYAKAN
Menulis harus menjadi budaya kita. Menjadi bagian dari cara hidup kita. Menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan kita. Jadi, budayakan menulis sehingga menjadi panggilan beraktifitas setiap hari.
KONSISTEN
Tak ada karya yang terselesaikan dengan baik tanpa konsistensi. Konsisten dalam menulis adalah misi untuk mencapai visi seorang penulis, yakni menghasilkan sebuah karya tulisan yang bisa memberi inspirasi bagi banyak orang. Bagaimana cara agar konsisten? Kita perlu memaksa diri kita menulis setiap hari minimal menulis tugas untuk siswa di blog atau upload gambar. Selain itu untuk memperkaya wawasan kita perlu aktif membeli buku secara online. Kita bisa menemukan dan mengembangkan ide kita mencari buku di OLSHOP.

Jadi, jangan takut CLBK, namun nikmatilah prosesnya dan syukuri hasilnya. Salah satu hasil CLBK yang beliau terapkan adalah sebuah karya buku kolaborasi dengan Prof. Richardus Eko Indrajit. Prof Eko memberi tantangan menulis buku selama seminggu. Judul buku saat itu disiapkan oleh Prof Eko, berdasarkan topik webinarnya di YouTube Prof EKOJI Channel. Kemudian peserta diminta untuk mengembangkannya sendiri. Terkait outline, pak Roma menyusunnya sendiri. Luar biasanya prof. Eko mengamini semua outline yang diajukan. Lalu pak Roma kombinasi bahan dari internet, buku-buku dan pengalaman pribadi. Ada satu sub judul tulisan di buku Digital Transformation itu yang dituliskan idenya ketika kampus tempat kuliah S2 saat itu terendam banjir dan dihantam. Semua tantangan dan hambatan yang dialaminya tesebut mampu dilalui beliau sampai akhirnya bukunya dapat diterbitkan oleh penerbit Andi.

Untuk menjaga konsistensi Pak Roma melakukan kiat Prof. Eko untuk menulis setiap hari kalau bisa satu halaman sebelum tidur. Kemudian memaksimalkan waktu di hari Sabtu dan Minggu. Selain itu beliau mempraktikkan kiat dari bapak Budiman Hakim tentang Cerpenting. Menuliskan semua apa yang dilihat yang nantinya akan sambung menyambung menjadi tulisan yang bermakna. Banyak membaca, entah itu sumber internet ataupun koleksi buku-buku. Tiap hari pantau informasi di Twitter, kadang ide juga munculnya dari sana. Selebihnya, pak Roma mengetik satu paragraf di handphone-nya sebelum tidur. Jam berapa pun beliau akan tidur pasti ada tulisan di HP satu paragraf. Ketika ada kesempatan beliau melengkapinya.

Selain Buku Digital Transformation pak Roma juga menerima tantangan kedua dari Prof. Eko untuk menulis dalam jangka waktu satu bulan buku yang berjudul Flipped Classroom. Flipped Classroom adalah buku tentang strategi membalikkan kelas dalam melakukan pembelajaran. Buku ini berisi berbagai tips bagaimana membalikkan kelas sehingga siswa mampu berpikir kritis, lebih kreatif, mandiri dan mampu berkolaborasi.

Untuk menularkan literasi ke siswa pak Roma mulai membiasakan menulis materi pelajaran di blog kemudian mengirimkannya ke siswa untuk dipelajari dan ini sangat mendukung proses Pembelajaran Jarak Jauh saat ini. Selebihnya, memberikan bahan bacaan ke siswa setiap malam sebelum pertemuan di kelas virtual esok hari. Ini bagian dari flipped classroom.

Untuk melawan rasa malas dan kelelahan menurut pak Roma perlu bangun komitmen, semangat dan motivasi diri sendiri, bahwa ada hasil yang harus dicapai dalam proses menulis ini. Kalau kelelahan, sebaiknya tidur dulu. Trik lainnya, bisa dengan pijitan. Jika jenuh menulis, pak Roma sering pergi ke kebun dan mencari inspirasi disana. Setelah di depan komputer maksimal 20 menit pak Roma keluar rumah sambil menghitung kendaraan yang lalu lalang atau bermain dengan anak.

Jangan lelah untuk Coba, Lakukan, Budayakan dan Konsisten dalam menulis. Setiap usaha kita pastinya akan bermuara pada hasil yang optimal mana kala kita senantiasa mau belajar, membangun komitmen dan memotivasi diri. Menulislah sebagai proses kehadiran kita untuk membawa kabar baik tentang ilmu kehidupan

Kunci Mimpi Cikgu Tere



 

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”.
Pramoedya Ananta Toer

Seorang guru muda yang cantik, energik dan bertabur prestasi hadir di tengah-tengah peserta kursus menulis PGRI sebagai nara sumber malam ini. Ibu Theresia Sri Rahayu, S.Pd, SD yang dikenal dengan sebutan Cikgu Tere adalah guru di SDN Waihibur Kab. Sumba Tengah NTT. Sosoknya menarik perhatian saya dan makin penasaran setelah melihat parasnya. Betulkah cikgu kelahiran 13 September 1984 ini asli dari wilayah timur Indonesia tepatnya dari NTT? Saya yakin tidak sebab saya punya teman asli NTT raut mukanya tidak seperti cikgu Tere. Ternyata tebakan saya benar setelah Om Jay memposting biodatanya. Cikgu Tere ternyata lahir di Kuningan. Waah… tetangga kabupaten dong sebab Kuningan posisinya bersebelahan dengan Majalengka dimana saya tinggal sejak lahir.

Setelah melihat biodatanya ternyata cikgu Tere sebelum bertugas di NTT pernah bertugas di Padalarang Kabupaten Bandung Barat. Bukan cuma sekedar bertugas namun juga menorehkan prestasi yang membanggakan sebagai Juara 1 Guru Berprestasi tingkat Kecamatan Padalarang (2014), Juara 2 Lomba Guru Berprestasi tingkat Kabupaten Bandung Barat (2014), dan Juara 3 Lomba Guru MIPA tingkat Kecamatan Padalarang (2014). Selanjutnya prestasi demi prestasi ditorehkan lagi oleh cikgu Tere yaitu : Juara 1 Olimpiade  Guru Nasional  tingkat Provinsi NTT (2018), Finalis Lomba Olimpiade Guru Nasional tingkat Nasional (2018), Finalis Lomba Alat Peraga Matematika Sederhana tingkat Nasional (2018), Peserta Short Course ke Luar Negeri dalam Program 1000 Guru ke Luar Negeri (2019), 40 besar penerima dana hibah penelitian pada program Teaching Challenge (2019), Finalis Course on Developing Lesson Study for Primary Mathematics Teacher tingkat Internasional (2019), Guru Inti Terbaik dalam Pembekalan Guru Inti Program PKP tingkat Provinsi NTT (2019), Peserta Terbaik dalam Bimtek UKS Regional Bali, Sahabat Rumah Belajar Provinsi  NTT (2019), Finalis Lomba Mathematics Teaching Learning Model (MTLM) tingkat Internasional (2019), Resume Terbaik dari KSGN dan Pelatihan Belajar Menulis Bersama Om Jay (2020), Blogger Inspiratif dari Ikatan Guru TIK PGRI dengan Penerbit Andi Yogyakarta (2020), dan 35 selected participants of Advance Online Course SEAMEO Qitep in Mathematics (2020). Cikgu Tere masih muda usia namun bertabur prestasi yang membanggakan.

Cikgu Tere merupakan salah seorang peserta Belajar Menulis Gelombang 4. Dalam salah satu materi, peserta diberikan tantangan oleh narasumber yang bernama Prof. Richardus Eko Indrajit. Materinya sangat menarik dan cikgu Tere sangat antusias untuk mengikuti tantangan yang diberikan yaitu menulis buku dalam waktu seminggu. Saat itu ada banyak topik yang diberikan. Topik-topik itu terdapat dalam channel youtube yaitu Ekoji Channel. Rupanya cikgu Tere merasa penasaran dengan salah satu topik yaitu Ubiquitous Learning. Rasa penasaran mendorongnya untuk  membuka  youtube ekoji channel  dan menyimak materi terkait topik tersebut. Setelah itu, besoknya langsung mendaftarkan namanya untuk menjadi penulis buku.  Cikgu Tere segera menyusun outline dan  menghubungi Prof Eko untuk mengajukan  judul serta outline bukuya. Judul bukunya Belajar Semudah Klik, Membangun Ubiquitous Learning Dalam Konsep Merdeka Belajar. Prof Ekoji menambahkan satu kata yaitu Ekosistem. Pada saat itu, para penulis yang ikut dalam proyek menulis  digabungkan dalam satu grup WA yaitu Menulis Bersama Prof. Ekoji. Dalam grup tersebut para penulis yang beranggotakan 20 orang termasuk Prof. Eko saling memotivasi agar dapat menyelesaikan tantangan menulis dalam  waktu seminggu.

Bagi cikgu Tere bukan hal yang mudah untuk bisa menulis ditengah kesibukan mengajar dan sebagai ibu rumah tangga yang masih memiliki anak usia balita. Dengan target waktu seminggu tentunya suatu perjuangan yang luar biasa untuk bisa mewujudkan  mimpinya memiliki buku dengan penerbit mayor. Tips dan trik yang diterapkan  yaitu dengan membuat time schedule (sehari berapa bagian / halaman, mengumpulkan referensi sebanyak mungkin, jauhkan HP (kecuali benar - benar dibutuhkan) karena cenderung mengecek notifikasi, nulis dulu edit kemudian, kerja sama dgn orang rumah. Terkait dengan konten buku berikut langkah - langkah yang dilakukannya. Untuk menyusun naskah dimulai dr memilih tema / topik. Salah satunya dengan menggunakan google trend. Di sana kita bisa melihat kecenderungan minat masyarakat sebagai pasar buku kita. Hal ini penting dilakukan mengingat kita bukan penulis terkenal. Jadi tips supaya buku kita laku diawali dgn memilih topik yg baik dulu. Setelah itu, coba buat mind map terkait topik, sampai menemukan judul yg menarik. Kemudian kembangkan judul menjadi outline naskah.  Minimal 5 bab krn mewakili 5 W + 1 H dari hal-hal yg ingin diketahui orang terhadap buku kita. Selanjutnya kembangkan naskah kita sesuai outline yg sudah dibuat. Salah satu keuntungan dari outline adalah kita bisa loncat dalam menulis. Jika di bab 1 mandeg, maka bisa menulis di bab selanjutnya. Tapi hal ini bisa berbeda ketika kita diminta memberikan naskah per bab / progressnya. Itulah yang dilakukan cikgu Tere saat menjalani tantangan menulis.

Setelah selesai menulis naskah kemudian dipresentasikan  secara virtual dan ternyata ada perubahan  yang harus dilakukan terkait hal yang bersifat teknis seperti penggunaan jenis huruf menggunakan verdana, ukuran 10, spasi tunggal. Ukuran kertas A5, lalu lengkapi dengan index dan daftar pustaka dibuat otomatis. Kemudian minimum 100 halaman dan jumlah bab paling sedikit 5 bab. Ternyata setelah cikgu Tere lay out bukunya sesuai ketentuan diatas jumlah halaman hanya mencapai 60 halaman. Jadi PR saat itu sangat banyak di samping harus belajar juga bagaimana caranya membuat index dan daftar pustaka serta daftar isi otomatis. Dengan perjuangan yang gigih cikgu Tere mencari tambahan 2 bab dan menulis lagi sampai di atas 100 halaman. Siang malam cikgu Tere menulis dan terus menulis di mana pun. Untuk kelancaran aktivitasnya tersebut  cikgu Tere meminta bantuan sang suami dalam mengasuh anaknya. Sungguh kolaborasi yang sangat manis dan romantis.

Setelah selesai  menulis naskah sesuai ketentuan yang diminta  kemudian dikumpulkan kembali pada Prof. Eko yang pada akhirnya diserahkan pada Penerbit Andi. Setelah diputuskan layak untuk diterbitkan  maka dari penerbit akan dikirim proof yaitu naskah buku yang sudah dilayout namun masih berupa lembaran / blm dijilid. Proof itu dikirimkan pada penulis agar bisa mengoreksinya bila masih ada kesalahan.  Pada saat menerima proof dilampiri juga Surat Perjanjian dari Penerbit Andi.
Cikgu Tere memberikan tips  jika kita berminat menulis buku dan ingin bukunya diterbitkan oleh Penerbit Mayor, sebaiknya kenali dulu seluk beluk (visi / misi) Penerbitnya. Terlebih terkait syarat dan prosedur penerimaan naskahnya.

Dari pengalaman yang disampaikan cikgu Tere kita harus berani bermimpi besar. Mimpi itu laksana sebuah kunci untuk menaklukan semua rintangan di dunia. Jadi, peliharalah mimpi itu dan segeralah bangun untuk mewujudkannya. 




Refleksi bulan Januari 2021

                   Membuka tahun 2021 tepatnya tanggal 7 Januari saya mendapat kabar jika buku saya yang berjudul "Berbagi Motivasi dal...